HAKIKAT KESADARAN MANUSIA
Kesadaran merupakan salah satu unsur paling mendasar dalam kehidupan manusia. Manusia bukan hanya makhluk yang hidup, bergerak, berpikir, merasakan, dan bertindak, tetapi juga makhluk yang mampu menyadari dirinya sendiri, menyadari keadaan yang dihadapinya, serta memahami akibat dari setiap pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran sering disamakan dengan keadaan terjaga atau tidak tidur. Padahal, kesadaran memiliki pengertian yang jauh lebih luas.
Seseorang dapat berada dalam keadaan terjaga, tetapi belum tentu memiliki kesadaran yang jernih terhadap apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dikehendaki, dan dilakukan.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran berkaitan erat dengan kemampuan manusia dalam memahami dan mengendalikan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Kesadaran menjadi daya yang memungkinkan manusia mengetahui apa yang sedang berlangsung dalam dirinya, kemudian menentukan sikap dan tindakan secara lebih jernih.
Sementara itu, dalam pemahaman Kawruh Sejati, kesadaran menjadi bagian penting dari proses manusia dalam menerima, memahami, dan menjalani kawruh.
Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan pengetahuan atau konsep yang dibuat oleh pikiran. Karena itu, kesadaran manusia perlu dibedakan dari pengetahuan biasa, pengalaman subjektif, maupun pemikiran yang muncul sesaat.
Hakikat Kesadaran Manusia.
Hakikat kesadaran manusia dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mengetahui keberadaan, keadaan, proses batin, serta tindakan diri secara sadar.
Kesadaran membuat manusia tidak sekadar mengalami sesuatu, tetapi juga mengetahui bahwa dirinya sedang mengalami sesuatu.
Ketika seseorang marah, misalnya, terdapat perbedaan antara sekadar terbawa kemarahan dengan menyadari bahwa dirinya sedang marah. Pada keadaan pertama, rasa dapat langsung mendorong tindakan. Pada keadaan kedua, terdapat kesadaran yang memungkinkan seseorang mengamati keadaan tersebut sebelum menentukan tindakan.
Demikian pula ketika muncul suatu pikiran. Tidak semua pikiran harus dipercaya dan tidak semua keinginan harus diwujudkan.
Kesadaran memberikan ruang bagi manusia untuk melihat apa yang muncul dalam dirinya sebelum menjadikannya dasar tindakan. Karena itu, kesadaran bukan sekadar keadaan mengetahui sesuatu di luar diri.
Kesadaran juga mencakup kemampuan untuk mawas terhadap proses yang berlangsung di dalam diri.
Kesadaran dan Cipta.
Cipta berkaitan dengan daya manusia dalam berpikir, membentuk gagasan, memahami, mempertimbangkan, dan mengolah berbagai hal yang diketahui.
Namun, cipta dapat bergerak ke berbagai arah. Pikiran dapat menghasilkan pemahaman yang jernih, tetapi juga dapat menghasilkan prasangka, kekhawatiran, angan-angan, atau kesimpulan yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Di sinilah kesadaran mempunyai peranan penting.
Kesadaran memungkinkan manusia menyadari bahwa suatu pikiran sedang muncul. Dengan demikian, manusia tidak langsung menganggap setiap pikiran sebagai kebenaran.
Kesadaran terhadap cipta merupakan salah satu dasar menuju Weninging Cipta. Cipta yang wening bukan berarti tidak memiliki pikiran, melainkan kemampuan menggunakan daya pikir secara jernih, tertata, dan tidak dikuasai oleh berbagai dorongan yang mengaburkan pemahaman.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, kejernihan cipta diperlukan agar manusia tidak mencampurkan kawruh dengan dugaan, khayalan, ataupun pendapat pribadi.
Kesadaran dan Rasa.
Rasa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Melalui rasa, manusia mengalami berbagai keadaan batin seperti senang, sedih, takut, kasih, kecewa, tenang, gelisah, dan berbagai pangrasa lainnya.
Namun, rasa juga dapat berubah-ubah.
Karena itu, manusia perlu memiliki kesadaran terhadap rasa yang muncul. Kesadaran tidak berarti menolak rasa, melainkan mengetahui keberadaannya tanpa langsung diperbudak olehnya.
Seseorang yang menyadari kemarahannya memiliki kesempatan untuk memahami kemarahan tersebut.
Seseorang yang menyadari ketakutannya dapat melihat apa yang menjadi sumber ketakutannya.
Seseorang yang menyadari keinginannya dapat mempertimbangkan apakah keinginan tersebut layak diikuti atau justru perlu dikendalikan.
Kesadaran terhadap rasa menjadi bagian dari perjalanan menuju Tulusing Rasa. Ketulusan rasa tidak sekadar berarti memiliki perasaan yang baik, tetapi berkaitan dengan kemampuan manusia membersihkan berbagai kotoran batin yang dapat mengaburkan pandangan terhadap keadaan yang sebenarnya.
Kesadaran dan Karsa.
Karsa berkaitan dengan kehendak, kemauan, dorongan untuk melakukan sesuatu, serta arah tindakan manusia.
Karsa memiliki kedudukan penting karena kehidupan manusia pada akhirnya diwujudkan melalui tindakan. Apa yang dipikirkan dan dirasakan dapat memengaruhi apa yang dikehendaki, sedangkan kehendak kemudian dapat diwujudkan menjadi tindakan.
Namun, tidak setiap kehendak harus diikuti. Manusia dapat mengalami karep sesaat, yaitu keinginan yang muncul karena keadaan tertentu dan dapat berubah setelah keadaan berubah. Tanpa kesadaran, karep sesaat dapat langsung menjadi dasar tindakan.
Dengan kesadaran, manusia dapat memberi jarak antara munculnya kehendak dan pelaksanaannya.
Di sinilah kesadaran berhubungan dengan Utamaning Karsa. Kehendak yang utama bukan semata-mata kehendak yang kuat, tetapi kehendak yang telah melalui pertimbangan yang jernih dan diarahkan kepada tindakan yang baik.
Kesadaran sebagai Pengendali Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia. Apa yang dipikirkan dapat memengaruhi rasa. Apa yang dirasakan dapat memengaruhi kehendak. Kehendak kemudian dapat menentukan tindakan.
Karena itu, diperlukan kesadaran yang mampu mengamati ketiganya.
Kesadaran bukan berarti menghilangkan cipta, rasa, dan karsa. Justru sebaliknya, kesadaran memungkinkan ketiga daya tersebut digunakan secara tepat.
Kerangkanya dapat dipahami secara sederhana:
Cipta mengetahui dan memahami.
Rasa mengalami dan menghayati.
Karsa menghendaki dan menggerakkan.
Kesadaran menyadari keseluruhannya.
Dengan demikian, kesadaran menjadi unsur penting dalam proses pengendalian diri.
Manusia yang sadar tidak berarti manusia yang tidak pernah salah. Kesadaran justru memungkinkan manusia mengenali kesalahannya, memahami sebabnya, dan memperbaiki laku.
Kesadaran dalam Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati tidak dapat dipahami hanya sebagai informasi yang dikumpulkan oleh manusia. Pengetahuan dapat diperoleh dari membaca, mendengar, belajar, dan pengalaman. Akan tetapi, memiliki pengetahuan belum tentu berarti memiliki kesadaran terhadap pengetahuan tersebut.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kemarahan merugikan, tetapi tetap dikuasai kemarahan.
Seseorang dapat mengetahui pentingnya kejujuran, tetapi tetap melakukan kebohongan.
Seseorang dapat memahami suatu ajaran, tetapi belum tentu menjalankannya.
Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara mengetahui dan menyadari.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, kesadaran memiliki fungsi penting karena kawruh tidak berhenti pada pemahaman intelektual. Pemahaman perlu hadir dalam cara manusia memandang dirinya, menghadapi kehidupan, mengambil keputusan, dan menjalani laku.
Karena itu, kesadaran menjadi salah satu jalan penting agar kawruh tidak berhenti sebagai konsep.
Kesadaran dalam Kawruh Uttamopadesa.
Kawruh Uttamopadesa memberikan kerangka pemahaman mengenai kehidupan manusia dan laku hidup. Dalam kerangka tersebut, manusia tidak hanya diarahkan untuk mengetahui, tetapi juga untuk menjalani.
Kesadaran menjadi penting karena laku yang dilakukan tanpa kesadaran mudah berubah menjadi kebiasaan mekanis.
Sebaliknya, laku yang dilakukan dengan kesadaran memungkinkan manusia terus mawas terhadap cipta, rasa, karsa, ucapan, dan tindakannya.
Karena itu, pembahasan mengenai kesadaran mempunyai hubungan erat dengan tujuan pengembangan Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa.
Ketiganya bukan sekadar istilah, melainkan arah pembentukan kehidupan manusia yang lebih sadar.
Kesadaran Bukan Sekadar Pikiran.
Kesadaran juga perlu dibedakan dari pikiran. Pikiran merupakan bagian dari proses cipta. Pikiran dapat berubah, berkembang, muncul, dan menghilang. Sementara itu, kesadaran berkaitan dengan kemampuan untuk menyadari proses tersebut.
Ketika manusia menyadari pikirannya, berarti manusia tidak sepenuhnya tenggelam dalam pikirannya.
Hal yang sama berlaku terhadap rasa dan karsa. Manusia dapat menyadari rasa tanpa harus menjadi budak rasa. Manusia dapat menyadari kehendak tanpa harus selalu mengikuti kehendak tersebut.
Dengan demikian, kesadaran memiliki kedudukan penting dalam pembentukan kemerdekaan batin manusia.
Kesadaran sebagai Dasar Mawas Diri.
Mawas diri bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Mawas diri adalah kemampuan untuk melihat keadaan diri secara jujur.
Manusia perlu mengetahui kapan cipta mulai keruh, kapan rasa mulai dipenuhi kotoran batin, dan kapan karsa mulai dikuasai kepentingan sesaat.
Kesadaran membuat proses tersebut dapat dikenali.
Dari pengenalan itulah manusia dapat melakukan perbaikan.
Kesadaran dengan demikian bukan tujuan yang berhenti pada pengalaman batin, melainkan menjadi dasar bagi laku kehidupan.
Penutup.
Hakikat kesadaran manusia tidak hanya terletak pada kemampuan untuk mengetahui dunia di luar dirinya, tetapi juga pada kemampuan untuk menyadari apa yang berlangsung dalam dirinya sendiri.
Kesadaran memungkinkan manusia mengenali cipta, memahami rasa, mengamati karsa, dan menentukan tindakan dengan lebih jernih.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, kesadaran menjadi bagian penting agar pemahaman tidak berhenti sebagai pengetahuan atau konsep.
Dalam Kawruh Uttamopadesa, kesadaran menjadi dasar bagi manusia untuk menjalani laku dan mengembangkan Weninging Cipta, Tulusing Rasa, serta Utamaning Karsa.
Dengan kesadaran, manusia tidak sekadar hidup dan mengalami kehidupan, tetapi mulai memahami bagaimana dirinya menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, kesadaran mengajarkan manusia untuk tidak selalu mengikuti apa yang muncul dalam cipta, rasa, dan karsa, melainkan mampu melihat, memahami, dan mengarahkannya secara sadar.
FAQ tentang Hakikat Kesadaran Manusia.
1. Apa hakikat kesadaran manusia?
Hakikat kesadaran manusia adalah kemampuan untuk menyadari keberadaan, keadaan, proses dalam diri, serta tindakan yang dilakukan sehingga manusia tidak sekadar mengalami, tetapi juga mengetahui dan memahami apa yang sedang berlangsung.
2. Apakah kesadaran sama dengan pikiran?
Tidak. Pikiran merupakan bagian dari proses cipta, sedangkan kesadaran berkaitan dengan kemampuan untuk menyadari proses tersebut.
3. Apa hubungan kesadaran dengan Cipta, Rasa, dan Karsa?
Kesadaran memungkinkan manusia menyadari apa yang dipikirkan melalui cipta, apa yang dirasakan melalui rasa, dan apa yang dikehendaki melalui karsa. Dengan demikian, manusia dapat mengarahkannya secara lebih jernih.
4. Apa hubungan kesadaran dengan Kawruh Sejati?
Kesadaran membantu manusia tidak berhenti pada mengetahui suatu kawruh, tetapi memahami dan menghayatinya dalam kehidupan. Kawruh Sejati tidak semata-mata diperlakukan sebagai kumpulan informasi atau konsep.
5. Apa hubungan kesadaran dengan Kawruh Uttamopadesa?
Dalam Kawruh Uttamopadesa, kesadaran berkaitan erat dengan laku hidup dan kemampuan manusia dalam mawas terhadap cipta, rasa, karsa, serta tindakannya.
6. Apakah orang yang sadar tidak pernah melakukan kesalahan?
Tidak. Kesadaran bukan berarti manusia menjadi tanpa kesalahan. Kesadaran membuat manusia mampu mengenali kesalahan, memahami penyebabnya, dan melakukan perbaikan.
7. Mengapa kesadaran penting dalam kehidupan manusia?
Karena kesadaran memberikan ruang bagi manusia untuk tidak langsung mengikuti setiap pikiran, perasaan, dan kehendak yang muncul. Dengan demikian, tindakan dapat dilakukan dengan lebih jernih dan bertanggung jawab.

Komentar
Posting Komentar