PURNATA JIWANA, PROSES MENJADI UTUH
Kehidupan manusia bukan sesuatu yang berhenti pada satu keadaan. Manusia terus bertumbuh, belajar, mengalami perubahan, menghadapi keberhasilan, mengalami kegagalan, bertemu dengan berbagai keadaan, serta menemukan pengalaman baru sepanjang perjalanan hidupnya.
Karena itu, keutuhan kehidupan tidak selalu dapat dipahami sebagai sebuah keadaan akhir.
Manusia dapat menjadi lebih matang melalui pengalaman. Pemahaman dapat berubah setelah seseorang menemukan kenyataan baru. Sikap dapat diperbaiki setelah menyadari kesalahan. Cara memperlakukan sesama dapat berkembang melalui pengalaman hidup.
Dengan demikian, menjadi utuh merupakan sebuah proses dalam kehidupan.
Gagasan mengenai proses menuju keutuhan tersebut mempunyai hubungan dengan Purnata Jiwana Uttamopadesa, sebuah wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.
Purnata Jiwana menempatkan kehidupan manusia sebagai perjalanan untuk terus menata diri melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.
Keutuhan Bukan Kesempurnaan Tanpa Kekurangan
Istilah kesempurnaan sering menimbulkan gambaran mengenai sesuatu yang tidak memiliki kekurangan.
Jika pengertian tersebut diterapkan secara mutlak kepada manusia, maka kesempurnaan menjadi sesuatu yang sulit dipahami secara nyata.
Manusia dapat melakukan kesalahan. Manusia dapat berubah pikiran. Manusia dapat mengambil keputusan yang keliru. Manusia dapat mengalami kegagalan.
Semua itu merupakan bagian dari kehidupan.
Karena itu, keutuhan kehidupan tidak harus berarti tidak adanya kekurangan. Keutuhan dapat dipahami sebagai kemampuan untuk terus menata berbagai bagian kehidupan sehingga tidak berjalan dalam pertentangan yang terus-menerus.
Seseorang dapat menyadari kekurangannya tanpa kehilangan arah. Seseorang dapat mengakui kesalahannya tanpa berhenti memperbaiki diri. Seseorang dapat menerima keadaan tanpa kehilangan kemauan untuk bertumbuh.
Di situlah proses menjadi utuh mulai terlihat.
Kehidupan sebagai Lampah.
Kehidupan dapat dipandang sebagai lampah.
Manusia tidak hanya berada dalam suatu keadaan, tetapi terus bergerak dari satu pengalaman menuju pengalaman lainnya.
Setiap pengalaman dapat memberikan pelajaran.
Perjumpaan dapat memperluas pemahaman.
Perpisahan dapat mengajarkan penerimaan.
Keberhasilan dapat menguji sikap terhadap diri sendiri.
Kegagalan dapat membuka kesempatan untuk memperbaiki kekurangan.
Kesulitan dapat menguji keteguhan.
Karena itu, kehidupan tidak hanya memberikan hasil. Kehidupan juga membentuk manusia.
Cara seseorang merespons pengalaman ikut menentukan bagaimana dirinya berkembang.
Mengapa Keutuhan Perlu Diupayakan?
Keutuhan tidak selalu datang dengan sendirinya. Manusia dapat mengetahui sesuatu tetapi tidak melakukannya.
Manusia dapat merasakan sesuatu tetapi tidak mampu mengarahkannya.
Manusia dapat mempunyai kehendak yang kuat tetapi tidak mempertimbangkan akibatnya.
Keadaan tersebut menunjukkan adanya kemungkinan ketidakseimbangan dalam diri.
Karena itu, manusia perlu terus menata apa yang dipahami, apa yang dihayati, dan apa yang dilakukan.
Dalam pemikiran Purnata Jiwana, proses tersebut berkaitan dengan tiga dasar:
Ketiganya bukan hanya keadaan yang ingin dicapai, tetapi juga bagian dari proses pembentukan diri.
Proses Tidak Selalu Lurus.
Perjalanan menjadi utuh tidak selalu berjalan maju tanpa kemunduran.
Ada saat ketika manusia sudah memahami sesuatu, tetapi kembali melakukan kesalahan.
Ada saat ketika rasa sudah tertata, kemudian kembali dipengaruhi oleh kekecewaan.
Ada saat ketika kehendak sudah diarahkan kepada kebaikan, tetapi kembali terseret oleh kepentingan pribadi.
Hal tersebut tidak otomatis berarti seluruh proses gagal.
Manusia dapat kembali menyadari keadaan tersebut dan mulai membenahinya. Karena itu, keutuhan tidak harus dipahami sebagai garis lurus.
Yang lebih penting adalah adanya kesediaan untuk terus kembali kepada arah yang baik.
Kesalahan dalam Proses Menjadi Utuh.
Kesalahan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Padahal kesalahan dapat menjadi bahan pembelajaran.
Ketika manusia berani melihat kesalahan, ia dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
Kesalahan dapat menjadi pepeling. Pengalaman buruk dapat menjadi panggulawenthah. Kegagalan dapat menjadi bahan untuk meninjau kembali cara bertindak.
Dengan demikian, kesalahan tidak harus menjadi identitas seseorang. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kesalahan tersebut diketahui.
Mengakui, Memahami, Memperbaiki. Kemudian berusaha agar kesalahan yang sama tidak terus diulang.
Hubungan Pemahaman dan Perubahan Diri.
Perubahan diri tidak cukup hanya dengan mengetahui apa yang benar.
Pengetahuan perlu masuk ke dalam cara menjalani kehidupan.
Seseorang dapat mengetahui pentingnya kejujuran, tetapi perubahan terjadi ketika kejujuran mulai menjadi kebiasaan.
Seseorang dapat memahami pentingnya menghormati sesama, tetapi pemahaman tersebut menjadi nyata ketika penghormatan hadir dalam tindakan.
Karena itu, terdapat proses:
Pangerten → Laku → Watak.
Pemahaman menjadi dasar bagi laku. Laku yang terus dilakukan dapat membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang dijaga dapat membentuk watak. Watak kemudian terlihat dalam kehidupan.
Keutuhan dan Keselarasan
Keutuhan tidak berarti semua bagian kehidupan harus sama. Manusia tetap mempunyai banyak sisi.
Ada kemampuan berpikir, perasaan, kehendak, hubungan sosial, tanggung jawab, dan berbagai pengalaman.
Yang diperlukan adalah keselarasan.
Cipta perlu memiliki kejernihan.
Rasa perlu memiliki ketulusan.
Karsa perlu memiliki keutamaan.
Ketika ketiganya mulai berjalan bersama, kehidupan memiliki dasar yang lebih tertata.
Dalam kerangka Purnata Jiwana, keselarasan tersebut menjadi jalan menuju keutuhan.
Menjadi Utuh dalam Kehidupan Sehari-hari.
Proses menjadi utuh tidak harus dilakukan melalui sesuatu yang luar biasa. Ia dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Ketika berbicara, manusia belajar menjaga perkataan.
Ketika berbeda pendapat, manusia belajar menghormati.
Ketika salah, manusia belajar mengakui.
Ketika berhasil, manusia belajar tidak meninggikan diri.
Ketika gagal, manusia belajar memperbaiki.
Ketika memperoleh kesempatan membantu, manusia belajar memberi tanpa selalu menunggu balasan.
Hal-hal sederhana tersebut merupakan bagian dari pembentukan kehidupan.
Purnata Jiwana sebagai Arah
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Purnata Jiwana dapat dipahami sebagai salah satu rumusan mengenai perjalanan menuju keutuhan kehidupan.
Ia tidak menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus langsung sempurna.
Sebaliknya, manusia ditempatkan sebagai pribadi yang terus memiliki kesempatan untuk menata diri.
Cipta dapat diweningkan. Rasa dapat ditulusi. Karsa dapat diutamakan. Laku dapat diperbaiki.
Dengan demikian, Purnata Jiwana bukan hanya mengenai hasil akhir, tetapi mengenai arah perjalanan.
Penutup.
Menjadi utuh merupakan proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Manusia tidak perlu menunggu dirinya menjadi sempurna untuk mulai memperbaiki diri.
Justru proses memperbaiki diri itulah yang menjadi bagian dari perjalanan menuju keutuhan.
Keutuhan tumbuh ketika manusia bersedia memahami kekurangannya, belajar dari pengalaman, menata cipta, rasa, dan karsa, kemudian mewujudkan pemahaman tersebut dalam laku.
Dalam konteks tersebut, Purnata Jiwana Uttamopadesa, yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, menawarkan sebuah kerangka untuk memahami perjalanan menuju kehidupan yang semakin tertata dan selaras.
FAQ Purnata Jiwana, Proses Menjadi Utuh.
1. Apakah menjadi utuh berarti menjadi manusia tanpa kesalahan?
Tidak. Keutuhan lebih berkaitan dengan proses menata diri dan kesediaan memperbaiki kesalahan.
2. Mengapa keutuhan disebut sebagai proses?
Karena manusia terus mengalami perubahan, belajar, menghadapi pengalaman baru, dan memperbaiki dirinya.
3. Apa hubungan kesalahan dengan proses menjadi utuh?
Kesalahan dapat menjadi bahan pembelajaran apabila manusia bersedia mengakuinya dan memperbaiki laku.
4. Apa hubungan Purnata Jiwana dengan proses menjadi utuh?
Purnata Jiwana membahas perjalanan menuju keutuhan kehidupan melalui penataan cipta, rasa, dan karsa.
5. Apakah proses menjadi utuh selalu berjalan maju?
Tidak selalu. Manusia dapat mengalami kemunduran, tetapi selalu dapat kembali menata diri.
6. Apa dasar proses menuju keutuhan dalam Purnata Jiwana?
Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.

Komentar
Posting Komentar