SIH KANG TANPA WINATES
Pendalaman Kedua Wedharan Prabhawaning Panguripan
Dalam Wedharan Prabhawaning Panguripan, Sih Kang Tanpa Winates merupakan pokok kedua setelah Hyang Manon Sang Anantateja. Kedua pokok ini tidak dapat dipisahkan karena keduanya berbicara tentang Hyang Manon.
Jika Hyang Manon Sang Anantateja mengarahkan pemahaman kepada keberadaan Hyang Manon sebagai Yang Manon dan Sang Anantateja, maka Sih Kang Tanpa Winates menguraikan salah satu sifat-Nya, yaitu kasih yang tidak berbatas.
Karena itu, Sih Kang Tanpa Winates tidak pertama-tama dimaksudkan sebagai perintah kepada manusia untuk mengasihi sesama. Ia bukan pula ukuran tentang seberapa baik hubungan antarmanusia. Pokok ini berbicara tentang sifat Hyang Manon terhadap seluruh panguripan.
Manusia kemudian dapat mengambil makna dan laku dari pemahaman tersebut, tetapi hal itu merupakan bagian lanjutan. Dasarnya tetap sama: Sih Kang Tanpa Winates adalah sifat Hyang Manon.
Sih yang Tidak Berbatas.
Sih merupakan daya kasih yang berasal dari Hyang Manon. Disebut tanpa winates karena sih tersebut tidak dibatasi oleh ukuran dan kepentingan manusia.
Manusia mengenal kasih melalui pengalaman kehidupannya. Kasih dapat muncul kepada keluarga, sahabat, pasangan, kelompok, atau sesuatu yang dianggap dekat dan berharga. Namun kasih manusia sering kali masih memiliki batas.
Manusia dapat menyayangi seseorang karena adanya hubungan tertentu. Ia dapat mencintai karena merasa memiliki, karena mendapatkan kebaikan, atau karena adanya ikatan emosional. Ketika hubungan berubah, rasa tersebut pun dapat berubah.
Sih Hyang Manon tidak demikian.
Sih Kang Tanpa Winates menunjuk kepada sifat yang tidak bergantung pada kedekatan, kepemilikan, balasan, atau kepentingan sebagaimana yang dikenal manusia.
Sih tersebut tidak dibatasi oleh siapa yang dekat dan siapa yang jauh, siapa yang disukai dan siapa yang tidak disukai, siapa yang memahami dan siapa yang belum memahami.
Karena itulah disebut tanpa winates.
Sih sebagai Sifat Hyang Manon.
Memahami sih sebagai sifat Hyang Manon penting agar manusia tidak mengubah kedudukan ajaran ini.
Hyang Manon bukan menjadi sumber sih karena manusia terlebih dahulu berbuat baik. Sebaliknya, sih merupakan sifat Hyang Manon yang melekat pada hubungan-Nya dengan panguripan.
Panguripan itu sendiri hadir tanpa manusia terlebih dahulu memintanya. Manusia tidak menentukan kapan dirinya mulai hidup. Ia menerima keberadaan, menerima raga, menerima kemampuan untuk mencipta, merasa, dan berkehendak. Berbagai unsur kehidupan berlangsung sebelum manusia mampu memahami semuanya.
Dari sini manusia dapat melihat bahwa panguripan bukan semata-mata hasil kehendaknya sendiri.
Sih Kang Tanpa Winates menjadi salah satu cara untuk memahami hubungan tersebut, yaitu Hyang Manon memberikan panguripan tanpa menjadikan kepentingan manusia sebagai ukuran utama dari keberadaan panguripan itu sendiri.
Sih Tidak Bergantung pada Balasan.
Sifat sih yang tanpa batas juga menunjukkan bahwa sih Hyang Manon tidak dapat disamakan dengan hubungan timbal balik antarmanusia.
Dalam kehidupan manusia, kasih sering kali masih disertai harapan. Manusia dapat mengasihi karena ingin dikasihi kembali. Ia dapat memberi karena berharap menerima. Ia dapat berbuat baik karena menginginkan penghargaan.
Hubungan semacam itu merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi tidak dapat dijadikan ukuran untuk memahami sih Hyang Manon.
Sih Kang Tanpa Winates tidak bergantung pada balasan manusia.
Panguripan tetap berlangsung meskipun manusia tidak memahami sumbernya. Manusia tetap menerima kehidupan meskipun belum mampu menyadari makna kehidupan tersebut.
Karena itu, sih Hyang Manon tidak bergantung pada apakah manusia telah mengenal, memahami, atau membalasnya.
Di sinilah letak kedalaman makna tanpa winates.
Sih Melampaui Ukuran Cipta Manusia.
Cipta manusia mempunyai batas. Manusia memahami sesuatu berdasarkan pengalaman, pengetahuan, pengamatan, dan kemampuan berpikir yang dimilikinya. Karena itu, ketika berhadapan dengan kenyataan yang lebih luas daripada kemampuannya, manusia sering berusaha memasukkannya ke dalam ukuran yang sudah dikenalnya.
Hal yang sama dapat terjadi ketika manusia mencoba memahami sih Hyang Manon.
Manusia mungkin membayangkan sih sebagai perasaan. Padahal sih dalam Wedharan Prabhawaning Panguripan tidak sekadar menunjuk kepada perasaan sebagaimana yang dialami manusia.
Sih merupakan sifat yang berkaitan dengan panguripan itu sendiri.
Karena itu, manusia tidak perlu memaksakan bentuk tertentu kepada sih Hyang Manon. Yang perlu dipahami adalah kenyataan bahwa panguripan hadir dalam suatu daya yang tidak dibatasi oleh kepentingan pribadi manusia.
Hubungan Sih dengan Panguripan.
Sih Kang Tanpa Winates memiliki hubungan langsung dengan poin ketiga, yaitu Sang Sumber Panguripan.
Jika Hyang Manon dipahami sebagai Sang Sumber Panguripan, maka sih yang tanpa batas merupakan salah satu sifat yang menyertai hubungan Hyang Manon dengan panguripan.
Panguripan tidak hanya diberikan kepada manusia yang dianggap baik menurut ukuran manusia. Kehidupan berlangsung dalam keluasan yang jauh melampaui penilaian manusia.
Manusia, hewan, tumbuhan, alam, dan berbagai bentuk kehidupan berada dalam suatu tatanan panguripan yang tidak dibangun oleh kehendak manusia.
Dari sini dapat dipahami bahwa sih Hyang Manon tidak bersifat sempit.
Ia tidak berhenti pada kepentingan satu manusia, satu kelompok, atau satu bentuk kehidupan yang dianggap paling dekat.
Sih Kang Tanpa Winates menunjuk kepada keluasan yang melampaui batas-batas tersebut.
Mengapa Manusia Sulit Memahaminya?
Kesulitan manusia memahami sih tanpa batas terutama berasal dari kecenderungan manusia melihat kehidupan dari pusat dirinya sendiri.
Manusia sering bertanya:
Apa yang aku dapat?
Apa yang menguntungkan bagiku?
Mengapa sesuatu terjadi kepadaku?
Mengapa kehidupanku tidak sesuai dengan keinginanku?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa manusia cenderung mengukur kehidupan berdasarkan dirinya.
Padahal panguripan jauh lebih luas daripada kepentingan pribadi.
Memahami Sih Kang Tanpa Winates membantu manusia melihat bahwa keberadaan panguripan tidak dapat dipersempit hanya berdasarkan keinginan dan ukuran dirinya.
Manusia adalah bagian dari panguripan, bukan pusat dari seluruh panguripan.
Sih Bukan Berarti Semua Kejadian Harus Sesuai Keinginan Manusia.
Ada kekeliruan lain yang perlu dihindari. Jika sih Hyang Manon tanpa batas, bukan berarti seluruh kejadian dalam kehidupan harus selalu sesuai dengan keinginan manusia.
Kehidupan memiliki tatanan dan sebab-akibatnya sendiri. Manusia mengalami kelahiran, pertumbuhan, perubahan, kehilangan, keberhasilan, kegagalan, dan kematian.
Tidak semua hal menyenangkan bagi manusia.
Karena itu, sih tidak dapat diukur hanya dari apakah kehidupan memberikan apa yang diinginkan manusia.
Pemahaman yang lebih dalam justru mengajak manusia melihat bahwa keberadaan panguripan itu sendiri merupakan kenyataan yang jauh lebih luas daripada kesenangan dan ketidaksenangan pribadi.
Sih dan Kebebasan Manusia.
Sih Hyang Manon juga tidak berarti manusia kehilangan kebebasan untuk menentukan laku.
Manusia tetap memiliki cipta, rasa, dan karsa. Manusia tetap dapat memilih tindakan dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Sih Hyang Manon adalah sifat sumber panguripan, sedangkan laku manusia merupakan tanggapan manusia terhadap kehidupan yang diterimanya.
Karena itu, keduanya perlu dibedakan.
Sih adalah sifat Hyang Manon.
Laku adalah tanggung jawab manusia. Manusia tidak menjadi sumber sih hanya karena berbuat baik. Namun ketika manusia memahami sih Hyang Manon, pemahaman tersebut dapat mengubah cara manusia menjalani kehidupannya.
Ia mulai memahami bahwa kehidupan yang diterimanya bukan alasan untuk hidup hanya demi kepentingan diri sendiri.
Dari Pemahaman Menuju Laku.
Walaupun Sih Kang Tanpa Winates merupakan sifat Hyang Manon, pemahaman terhadapnya tetap memiliki akibat dalam kehidupan manusia.
Jika manusia sungguh memahami bahwa panguripan berada dalam keluasan sih yang tidak berbatas, ia akan terdorong untuk melihat kehidupan secara lebih luas.
Ia tidak mudah menganggap dirinya sebagai pusat.
Ia tidak mudah memperlakukan sesama hanya sebagai alat.
Ia mulai belajar menghargai kehidupan tanpa selalu menuntut balasan.
Namun semua itu adalah buah pemahaman, bukan pengertian utama dari Sih Kang Tanpa Winates.
Perbedaan ini penting supaya ajaran tidak
bergeser.
Sih tidak didefinisikan dari perilaku manusia.
Sebaliknya, manusia memahami sifat sih Hyang Manon terlebih dahulu, kemudian berusaha menjadikan pemahaman tersebut sebagai dasar dalam menjalani kehidupannya.
Sih dalam Keseluruhan Wedharan Prabhawaning Panguripan.
Sih Kang Tanpa Winates merupakan bagian kedua dari rangkaian sembilan pokok Wedharan Prabhawaning Panguripan.
Urutannya memiliki makna.
Pertama, manusia diarahkan untuk mengenali Hyang Manon Sang Anantateja.
Kedua, manusia memahami salah satu sifat-Nya, yaitu Sih Kang Tanpa Winates.
Ketiga, pemahaman tersebut diteruskan kepada Sang Sumber Panguripan.
Setelah itu pembahasan bergerak menuju Jatining Panguripan, Jiwa, Sukma, Cetana, Raga, dan akhirnya Panguripan Janma.
Dengan demikian, sembilan pokok tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai kumpulan istilah yang terpisah.
Sih Kang Tanpa Winates merupakan jembatan penting antara pengenalan terhadap Hyang Manon dan pemahaman tentang panguripan.
Penutup.
Sih Kang Tanpa Winates adalah sifat Hyang Manon. Sih tersebut tidak terbatas oleh ukuran manusia, tidak bergantung pada balasan, dan tidak dibatasi oleh kepentingan pribadi. Ia berkaitan dengan keluasan hubungan Hyang Manon dengan seluruh panguripan.
Manusia tidak perlu mengubahnya menjadi sekadar ajaran tentang kasih antarmanusia. Yang lebih mendasar adalah memahami bahwa panguripan berada dalam keluasan sih yang tidak berbatas.
Dari pemahaman itulah manusia kemudian dapat memperbaiki cara memandang kehidupan.
Ia belajar bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Ia menerima panguripan, menjalani panguripan, dan bertanggung jawab atas bagaimana ia menggunakan cipta, rasa, dan karsanya selama hidup.
Dengan demikian, Sih Kang Tanpa Winates bukan pertama-tama tentang bagaimana manusia mengasihi, melainkan tentang bagaimana manusia memahami sifat Hyang Manon sebagai sumber sih yang tidak berbatas.
Dan ketika pemahaman itu benar-benar dihayati, ia dapat menjadi dasar bagi laku yang lebih selaras dengan panguripan.
FAQ
1. Apa yang dimaksud Sih Kang Tanpa Winates?
Sih Kang Tanpa Winates adalah sifat Hyang Manon yang menunjukkan sih yang tidak berbatas oleh kepentingan, kedekatan, balasan, maupun ukuran manusia.
2. Apakah Sih Kang Tanpa Winates merupakan sifat manusia?
Bukan. Dalam Wedharan Prabhawaning Panguripan, Sih Kang Tanpa Winates merupakan sifat Hyang Manon. Manusia hanya dapat memahami dan menjadikan pemahaman tersebut sebagai dasar laku.
3. Apakah sih Hyang Manon sama dengan perasaan kasih manusia?
Tidak. Perasaan kasih merupakan pengalaman manusia yang terbatas. Sih Hyang Manon menunjuk kepada sifat yang lebih luas dan tidak dibatasi oleh ukuran manusia.
4. Mengapa disebut tanpa winates?
Karena sih Hyang Manon tidak dibatasi oleh kepentingan, kedekatan, kepemilikan, kelompok, maupun tuntutan balasan sebagaimana yang sering membatasi kasih manusia.
5. Apakah sih Hyang Manon bergantung pada balasan manusia?
Tidak. Sih tersebut tidak bergantung pada apakah manusia telah memahami atau membalasnya.
6. Apa hubungan Sih Kang Tanpa Winates dengan Sang Sumber Panguripan?
Keduanya berkaitan erat. Sih Kang Tanpa Winates menjelaskan sifat Hyang Manon, sedangkan Sang Sumber Panguripan menjelaskan kedudukan Hyang Manon sebagai sumber panguripan.
7. Apakah Sih Kang Tanpa Winates berarti semua keinginan manusia akan dipenuhi?
Tidak. Sih tidak dapat diukur berdasarkan apakah kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan manusia.
8. Apakah manusia dapat meneladani Sih Kang Tanpa Winates?
Manusia tidak memiliki sih dalam pengertian yang sama dengan Hyang Manon. Namun manusia dapat mengambil hikmah dari pemahamannya dan mewujudkannya dalam laku yang lebih baik.
9. Apa hubungan Sih Kang Tanpa Winates dengan cipta, rasa, dan karsa?
Pemahaman terhadap sih dapat mempengaruhi cara manusia menggunakan cipta, rasa, dan karsa. Namun cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian dari manusia, sedangkan Sih Kang Tanpa Winates merupakan sifat Hyang Manon.
10. Mengapa Sih Kang Tanpa Winates menjadi poin kedua?
Karena setelah mengenali Hyang Manon Sang Anantateja, manusia diarahkan untuk memahami salah satu sifat-Nya sebelum masuk lebih jauh pada pembahasan tentang Sang Sumber Panguripan dan unsur-unsur panguripan lainnya.
**Sumber artikel :
WEDHARAN PRABHAWANING PANGURIPAN.

Komentar
Posting Komentar