PENGENDALIAN CIPTA DALAM KAWRUH SEJATI

nawa malaning cipta

Kajian Serat Nawa Malaning Cipta
(Pengendalian Cipta dalam Kawruh Sejati)

Pendahuluan.
Dalam Kawruh Sejati, perubahan hidup tidak dimulai dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki manusia, melainkan dari kemampuan menata batinnya sendiri. Salah satu bagian terpenting dalam penataan batin adalah pengendalian cipta. Cipta merupakan daya untuk berpikir, memahami, menimbang, dan menentukan arah sebelum rasa serta karsa diwujudkan menjadi tindakan. Karena itu, keadaan cipta sangat menentukan kualitas kehidupan manusia.

Serat Nawa Malaning Cipta mengajarkan bahwa cipta dapat tertutup oleh berbagai “malaning cipta”, yaitu rereged batin yang membuat pandangan manusia menjadi keruh. Rereged tersebut tidak selalu tampak dari luar. Bahkan, seseorang dapat terlihat baik dalam perkataan dan perilakunya, sementara di dalam dirinya masih terdapat pamrih, prasangka, kesombongan, iri, kebencian, ketakutan, keinginan menguasai, atau ketidakpuasan yang terus-menerus.

Karena itu, pengendalian cipta bukan berarti mematikan pikiran atau menolak keinginan. Pengendalian cipta berarti membersihkan cara berpikir agar manusia mampu melihat kenyataan dengan jernih, menimbang dengan adil, serta menentukan karsa yang selaras dengan kehidupan.

Cipta sebagai Awal Lampah.
Setiap tindakan pada dasarnya memiliki awal yang berada di dalam batin. Sebelum seseorang berbicara, memilih, atau bertindak, terdapat proses berpikir dan menimbang dalam cipta. Dari cipta kemudian terbentuk arah rasa dan karsa. Oleh sebab itu, kesalahan dalam tindakan sering kali bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan diawali oleh cipta yang telah menyimpang.

Cipta yang jernih akan membantu manusia melihat persoalan secara lebih utuh. Ia tidak mudah terbawa oleh emosi, tidak tergesa-gesa membuat penilaian, dan tidak langsung menganggap pandangannya sendiri sebagai kebenaran mutlak. Sebaliknya, cipta yang keruh mudah dipengaruhi keinginan, ketakutan, kepentingan pribadi, maupun prasangka.

Dalam hubungan dengan rasa dan karsa, cipta tidak berdiri sendiri. Cipta memberikan arah, rasa memberikan kedalaman pengalaman batin, sedangkan karsa mendorong manusia untuk bertindak.

Ketiganya harus berjalan selaras. Cipta tanpa rasa dapat menjadi kaku, rasa tanpa tuntunan cipta dapat mudah terbawa keadaan, sementara karsa tanpa cipta dan rasa yang bersih dapat menghasilkan tindakan yang keliru.

Dengan demikian, pengendalian cipta merupakan salah satu dasar penting dalam membangun kehidupan yang selaras.

Kasucening Cipta.
Kasucening cipta bukan berarti pikiran menjadi kosong. Justru sebaliknya, cipta yang bersih adalah cipta yang mampu bekerja secara jernih. Ia tetap berpikir, menimbang, membandingkan, dan mencari pemahaman, tetapi tidak mudah dikuasai oleh kepentingan yang menyimpang.

Rereged cipta sering kali bekerja secara halus. Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya selalu benar. Pamrih membuat kebaikan dilakukan demi imbalan. Iri membuat keberhasilan orang lain terasa sebagai ancaman. Kebencian membuat seseorang sulit melihat kebaikan dalam diri orang yang tidak disukainya. Ketakutan dapat membuat manusia meninggalkan apa yang sebenarnya benar. Prasangka membuat seseorang mengambil kesimpulan sebelum memahami keadaan.

Semua itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar apa yang dipikirkan manusia, melainkan bagaimana pikirannya dibentuk oleh keadaan batin.

Karena itu, membersihkan cipta harus dimulai dengan keberanian untuk melihat diri sendiri secara jujur. Manusia perlu bertanya: mengapa aku berpikir demikian? Apakah penilaianku berdasarkan kenyataan atau hanya dugaan? Apakah tindakanku benar-benar tulus, atau ada keinginan untuk mendapatkan pujian? Apakah aku sedang mencari kebenaran, atau hanya ingin membenarkan diriku sendiri?

Pertanyaan semacam itu merupakan bentuk mawas diri yang menjadi dasar pengendalian cipta.

Sembilan Malaning Cipta.
Serat Nawa Malaning Cipta menjelaskan sembilan rereged utama yang dapat menghalangi kejernihan cipta.

Pertama, pambengkakan aku atau kumingsun. Sikap ini membuat manusia merasa paling benar dan sulit menerima nasihat. Obatnya adalah andhap asor. Rendah hati membuka ruang bagi seseorang untuk terus belajar.

Kedua, ngluru ganjaran atau pamrih. Kebaikan dilakukan dengan mengharapkan balasan, pujian, kedudukan, atau keuntungan. Pamrih membuat kebaikan kehilangan ketulusannya. Pengendaliannya dilakukan melalui katulusan, yaitu berbuat baik karena memahami bahwa kebaikan memang layak dilakukan.

Ketiga, ora rena liyan atau drengki. Keadaan ini muncul ketika seseorang tidak senang melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain. Pengendaliannya adalah belajar ikut bergembira atas kebaikan sesama. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai kehidupan kita.

Keempat, sumeru atau sengit. Kebencian yang terus dipelihara akan membebani cipta sendiri. Pangapura menjadi jalan untuk melepaskan beban tersebut. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan membebaskan batin dari keterikatan pada kebencian.

Kelima, sumedhot atau wedi. Ketakutan yang tidak terkendali dapat membuat manusia kehilangan kejernihan dalam mengambil keputusan. Pengendaliannya adalah keteguhan hati untuk menghadapi kenyataan tanpa membiarkan rasa takut menentukan seluruh arah kehidupan.

Keenam, salahe pamawas atau prasangka. Manusia dapat menilai seseorang atau keadaan sebelum memahami kenyataan secara utuh. Karena itu, cipta perlu dilatih untuk mendengar, meneliti, dan mempertimbangkan sebelum mengambil kesimpulan.

Ketujuh, kepéngin nguasani atau mengkoni. Keinginan mengendalikan orang lain membuat manusia lupa bahwa setiap orang memiliki kehendak dan jalannya sendiri. Kekuasaan yang utama bukanlah kemampuan menguasai orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri.

Kedelapan, kaserakahan atau ora wareg. Ketidakpuasan membuat manusia terus mengejar lebih banyak harta, kedudukan, pujian, maupun kekuasaan. Cipta yang bersih belajar mengenal kecukupan. Merasa cukup bukan berarti berhenti berusaha, tetapi tidak membiarkan keinginan tanpa batas menguasai kehidupan.

Kesembilan, lali marang kasunyatan atau cidra. Inilah dasar terdalam dari berbagai malaning cipta. Manusia lupa pada kenyataan kehidupan dan melupakan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan. Ketika manusia kehilangan kesadaran terhadap kenyataan, berbagai rereged lain mudah tumbuh.

Dengan demikian, sembilan malaning cipta bukan sekadar daftar sifat buruk. Semuanya merupakan cermin untuk melihat keadaan batin sendiri.

Pengendalian Cipta sebagai Laku.
Pengendalian cipta tidak dapat dicapai hanya dengan memahami istilah. Pengetahuan baru memiliki arti apabila diwujudkan dalam laku.
Karena itu, setiap malaning cipta membutuhkan latihan nyata.

Kesombongan dilatih dengan kerendahan hati. Pamrih dilatih dengan ketulusan. Iri dilatih dengan ikut bersyukur atas kebaikan sesama. Kebencian dilatih dengan memaafkan. Ketakutan dilatih dengan keteguhan. Prasangka dilatih dengan kejernihan dalam menilai. Keinginan menguasai dilatih dengan menghormati kebebasan orang lain. Keserakahan dilatih dengan rasa cukup. Sedangkan kelupaan terhadap kenyataan dilatih melalui eling dan mawas diri.

Laku tersebut bukan pekerjaan sekali selesai. Cipta perlu diperiksa berulang-ulang karena keadaan batin manusia selalu berubah. Hari ini seseorang dapat merasa telah tulus, tetapi besok pamrih dapat muncul kembali. Hari ini seseorang dapat merasa telah mampu memaafkan, tetapi suatu peristiwa dapat membangkitkan kembali kebencian.
Karena itu, pengendalian cipta merupakan latihan sepanjang kehidupan.

Wohing Cipta Resik.
Cipta yang bersih menghasilkan perubahan yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menjadi lebih rendah hati, tulus, mampu menerima keberhasilan orang lain, tidak suka memelihara kebencian, berani menghadapi kenyataan, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai.

Ia tidak lagi sibuk menguasai orang lain karena menyadari bahwa penguasaan yang paling penting adalah terhadap dirinya sendiri. Ia juga tidak mudah diperbudak oleh keinginan karena telah memahami arti kecukupan.

Pada akhirnya, cipta yang bersih akan mempengaruhi rasa dan karsa. Pamawas menjadi jernih, rasa menjadi bening, karsa menjadi lebih utama, dan tindakan menjadi lebih selaras dengan kehidupan. Inilah hubungan penting antara pengendalian cipta dan Kawruh Sejati: pengetahuan tentang kehidupan tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi menjadi dasar untuk memperbaiki cara manusia menjalani kehidupan.

Penutup.
Serat Nawa Malaning Cipta mengingatkan bahwa pepalang terbesar dalam kehidupan tidak selalu berada di luar diri. Sering kali pepalang itu tumbuh dari cipta sendiri.

Kesombongan, pamrih, iri, kebencian, ketakutan, prasangka, keinginan menguasai, keserakahan, dan kelupaan terhadap kenyataan dapat membuat manusia semakin jauh dari kejernihan batin.

Karena itu, pengendalian cipta bukanlah perjuangan untuk melawan diri sendiri, melainkan proses membersihkan diri agar cipta kembali menjalankan fungsinya secara benar. Manusia belajar melihat sebelum menilai, memahami sebelum bertindak, dan memeriksa dirinya sendiri sebelum menyalahkan orang lain.

Dalam Kawruh Sejati, ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak seseorang mengetahui ajaran, melainkan seberapa jauh pengetahuan tersebut mengubah cara berpikir, merasakan, dan bertindak.

“Resiking cipta nuwuhaké beninging pamawas, beninging pamawas nuntun leresing lampah.”

Cipta yang bersih melahirkan pandangan yang jernih, dan pandangan yang jernih menuntun langkah yang benar. Dari sanalah pengendalian cipta menjadi jalan menuju beningnya rasa, utamanya karsa, dan selarasnya kehidupan.

FAQ - Pengendalian Cipta dalam Kawruh Sejati.
1. Apa yang dimaksud dengan pengendalian cipta dalam Kawruh Sejati?
Pengendalian cipta adalah usaha menata dan membersihkan pikiran dari berbagai rereged batin agar manusia mampu melihat kenyataan dengan jernih, menimbang dengan tepat, dan menentukan tindakan yang benar.

2. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta berfungsi memahami dan menimbang, rasa menghayati, sedangkan karsa mendorong manusia untuk bertindak. Ketiganya perlu berjalan selaras agar pikiran, perasaan, dan tindakan tidak saling bertentangan.

3. Apa yang dimaksud dengan Nawa Malaning Cipta?
Nawa Malaning Cipta adalah sembilan rereged cipta yang dapat menghalangi kejernihan batin, yaitu kumingsun, pamrih, drengki, sengit, wedi, prasangka, keinginan menguasai, keserakahan, dan kelupaan terhadap kasunyatan.

4. Mengapa cipta perlu dibersihkan?
Karena keadaan cipta memengaruhi rasa, karsa, dan tindakan. Cipta yang keruh dapat menghasilkan penilaian dan tindakan yang menyimpang, sedangkan cipta yang bersih membantu manusia menjalani kehidupan secara lebih selaras.

5. Apakah pengendalian cipta berarti harus berhenti berpikir?
Tidak. Pengendalian cipta bukan mengosongkan pikiran, tetapi membersihkan pikiran dari pamrih, prasangka, ketakutan, kesombongan, dan berbagai pengaruh yang mengaburkan kenyataan.

6. Bagaimana cara membersihkan cipta?
Pangresikan cipta dilakukan melalui mawas diri dan laku nyata: rendah hati, tulus, ikut bersyukur atas kebahagiaan sesama, memaafkan, teguh menghadapi kenyataan, berpikir jernih, menghormati orang lain, merasa cukup, serta selalu eling dan mawas diri.

7. Apa buah dari cipta yang bersih?
Cipta yang bersih menghasilkan pandangan yang jernih, rasa yang bening, karsa yang utama, serta tindakan yang lebih benar dan bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dan kehidupan.


ARTIKEL-ARTIKEL LAINNYA:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANEMBAH JATIMULYO DAN ETIKA KEHIDUPAN

PANEMBAHAN KAWRUH SEJATI

PERSAUDARAAN, BUAH KAWRUH SEJATI