KAWRUH URIP SEJATI UTTAMOPADESA
Kawruh Urip Sejati dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa dikenal sebagai Purnata Jiwana Uttamopadesa. Purnata Jiwana merupakan rumusan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam pengembangan Kawruh Uttamopadesa untuk membahas hakikat dan tatanan kehidupan manusia.
Kedudukan tersebut penting untuk dipahami karena istilah Kawruh Urip Sejati dan Purnata Jiwana bukan menunjuk pada dua kawruh yang berbeda.
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan sebutan atau rumusan Kawruh Urip Sejati dalam kerangka Uttamopadesa.
Pembahasan Purnata Jiwana karena itu berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai kehidupan, yaitu apa yang dimaksud dengan urip, bagaimana manusia memahami panguripan, bagaimana kesadaran berhubungan dengan kehidupan, dan bagaimana pemahaman tersebut diwujudkan dalam laku.
Urip sebagai Panguripan.
Urip bukan hanya keadaan biologis bahwa tubuh masih hidup. Manusia dapat disebut hidup secara jasmani, tetapi persoalan mengenai kehidupan tidak berhenti pada keberlangsungan tubuh.
Manusia juga mengalami kesadaran, mempunyai cipta, rasa, dan karsa, serta menjalani berbagai hubungan dan pengalaman.
Karena itu, ketika membicarakan Urip Sejati, yang dibahas bukan sekadar bagaimana manusia mempertahankan kehidupan, tetapi bagaimana manusia memahami dan menjalani panguripan.
Mengapa Disebut Purnata Jiwana?
Purnata Jiwana menunjuk pada keutuhan kehidupan. Purnata tidak dimaksudkan sebagai keadaan manusia yang tidak pernah salah atau tidak pernah mengalami kesulitan.
Kehidupan tetap mempunyai perubahan, keterbatasan, kehilangan, kegagalan, dan berbagai keadaan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan manusia.
Keutuhan justru berhubungan dengan bagaimana manusia menata dirinya ketika menghadapi seluruh keadaan tersebut.
Apakah pemahamannya tetap jernih?
Apakah rasanya tetap dapat ditata?
Apakah kehendaknya tetap dapat diarahkan?
Dari pertanyaan-pertanyaan inilah Purnata Jiwana mempunyai hubungan erat dengan Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.
Purnata Jiwana dan Kasunyatan.
Urip Sejati tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai kasunyatan. Manusia dapat mempunyai pandangan tentang kehidupan berdasarkan pengalaman pribadi. Namun pengalaman pribadi belum tentu menggambarkan kenyataan secara utuh.
Apa yang dilihat belum tentu seluruh keadaan.
Apa yang dirasakan belum tentu seluruh kenyataan.
Apa yang dipikirkan belum tentu seluruh kebenaran.
Karena itu, manusia perlu mempunyai kejernihan dalam memahami.
Cipta Wening menjadi penting karena manusia membutuhkan kemampuan untuk melihat melampaui kesimpulan yang terbentuk secara tergesa-gesa.
Dalam kerangka Purnata Jiwana, kejernihan cipta menjadi salah satu dasar bagi perjalanan menuju keutuhan kehidupan.
Hubungan dengan Kawruh Sejati.
Kawruh Urip Sejati atau Purnata Jiwana memiliki hubungan dengan Kawruh Sejati, tetapi keduanya tetap mempunyai pengertian masing-masing.
Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh, sedangkan Purnata Jiwana merupakan kerangka Kawruh Uttamopadesa yang membahas bagaimana panguripan dijalani dan ditata.
Hubungannya dapat dipahami sebagai berikut:
Kawruh Sejati → pepadhang → pemahaman → kesadaran → laku Purnata Jiwana.
Kawruh Sejati memberikan dasar pepadhang. Manusia kemudian perlu menyadari dan memahami. Pemahaman tersebut selanjutnya diwujudkan dalam laku kehidupan.
Dengan demikian, Purnata Jiwana bukan pengganti Kawruh Sejati, tetapi merupakan penjabaran Kawruh Urip Sejati dalam kerangka Uttamopadesa.
Kesadaran dalam Urip Sejati.
Kesadaran mempunyai kedudukan penting karena manusia perlu mengetahui keadaan dirinya sendiri.
Kesadaran memungkinkan manusia memperhatikan apa yang terjadi dalam cipta, rasa, dan karsa.
Ketika muncul kemarahan, manusia dapat menyadarinya.
Ketika muncul iri, manusia dapat mengenalinya.
Ketika muncul keinginan untuk membalas, manusia dapat melihat dorongan tersebut sebelum bertindak.
Kemampuan tersebut menjadi dasar bagi mawas dhiri.
Namun kesadaran tetap perlu dibedakan dari Kawruh Sejati. Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari, sedangkan Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh.
Pembedaan ini menjaga agar Urip Sejati tidak dipersempit menjadi sekadar pengalaman subjektif.
Cipta Wening.
Dalam Purnata Jiwana, Cipta Wening merupakan dasar kejernihan pemahaman.
Manusia perlu belajar membedakan antara kenyataan dan penafsirannya sendiri. Cipta yang wening tidak berarti tidak mempunyai pendapat. Cipta Wening justru memungkinkan manusia mempunyai pendapat dengan kesediaan untuk memeriksa dan memperbaikinya apabila ternyata keliru.
Karena itu, Cipta Wening dapat diringkas dalam prinsip:
Weninging Cipta dadi Pepadhanging Pangerten.
Kejernihan cipta menjadi dasar agar manusia tidak mudah dikuasai prasangka dan penilaian yang tergesa-gesa.
Tulusing Rasa.
Tulusing Rasa berkaitan dengan bagaimana manusia menghayati kehidupan.
Rasa merupakan bagian dari pengalaman manusia, tetapi rasa dapat menjadi keruh apabila dikuasai pamrih, iri, kebencian, atau keterikatan.
Ketulusan bukan berarti tidak memiliki perasaan negatif. Ketulusan berarti manusia tidak membiarkan rasa tersebut menguasai seluruh arah kehidupannya.
Manusia dapat kecewa tanpa membenci. Dapat berbeda tanpa merendahkan. Dapat tegas tanpa memusuhi. Dapat membantu tanpa selalu menuntut balasan.
Karena itu:
Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan.
Karsa Utama.
Karsa menjadi bagian yang membawa pemahaman dan penghayatan menuju tindakan.
Manusia mempunyai banyak kehendak. Namun tidak semua kehendak harus diwujudkan.
Karsa Utama berarti kemampuan mengarahkan kehendak kepada tindakan yang baik dan bertanggung jawab.
Di sini muncul pertanyaan penting: apakah tindakan yang hendak dilakukan hanya memenuhi keinginan pribadi, atau mempunyai dasar yang lebih utama?
Utamaning Karsa tidak menghapus kebebasan manusia. Sebaliknya, ia menempatkan kebebasan dalam tanggung jawab.
Karena itu:
Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku.
Kesatuan Tiga Dasar.
Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama merupakan satu kesatuan.
Cipta memberikan kejernihan memahami. Rasa memberikan kedalaman menghayati. Karsa memberikan daya untuk mewujudkan. Apabila ketiganya berjalan tidak selaras, kehidupan dapat mengalami pertentangan.
Cipta mengetahui sesuatu sebagai baik, tetapi rasa menolaknya dan karsa melakukan hal yang berlawanan.
Sebaliknya, ketika ketiganya berjalan dalam satu arah, pemahaman, penghayatan, dan tindakan menjadi lebih utuh. Keselarasan inilah yang menjadi inti Purnata Jiwana.
Dari Kawruh menuju Laku.
Kawruh Urip Sejati tidak berhenti pada pemahaman intelektual.
Manusia dapat mengetahui banyak hal mengenai kehidupan tetapi belum tentu menjalani kehidupan dengan baik.
Karena itu, Purnata Jiwana menempatkan laku sebagai bagian penting dari kawruh. Pemahaman yang dihayati dalam kehidupan akan mempengaruhi kebiasaan. Kebiasaan yang terus ditata dapat membentuk watak. Watak kemudian terlihat dalam tindakan.
Dengan demikian, perjalanan Purnata Jiwana dapat dipahami sebagai perjalanan dari:
pangerten → pangrasa → karsa → laku → watak.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa Kawruh Urip Sejati harus mempunyai bentuk dalam kehidupan nyata.
Purnata Jiwana sebagai Keutuhan Kehidupan.
Purnata Jiwana tidak menunjuk pada satu pengalaman khusus. Ia merupakan tatanan kehidupan yang terus diupayakan.
Setiap hari manusia dapat kembali menghadapi keadaan yang menguji cipta, rasa, dan karsa. Karena itu, Purnata Jiwana bukan pencapaian yang membuat manusia berhenti belajar.
Sebaliknya, Purnata Jiwana merupakan lampah yang terus dijaga.
Ketika cipta keruh, kembali kepada wening.
Ketika rasa dikuasai pamrih, kembali kepada ketulusan.
Ketika karsa menyimpang, kembali kepada kautaman.
Itulah bentuk nyata Kawruh Urip Sejati.
Penutup.
Kawruh Urip Sejati dalam kerangka Uttamopadesa dikenal sebagai Purnata Jiwana Uttamopadesa.
Purnata Jiwana bukan sekadar istilah mengenai kesempurnaan hidup, tetapi rumusan Kawruh Urip Sejati yang membahas bagaimana manusia memahami dan menjalani panguripan menuju keutuhan.
Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh. Kesadaran memungkinkan manusia mawas terhadap dirinya. Cipta, rasa, dan karsa menjadi bagian penting dalam penghayatan kehidupan. Laku menjadi perwujudan pemahaman tersebut.
Seluruhnya bermuara pada tiga dasar:
Cipta Wening, Tulusing Rasa dan Karsa Utama.
Cipta Wening menjernihkan pangerten. Tulusing Rasa membangun kaselarasan. Karsa Utama menjadi dasar laku.
Dengan demikian, Purnata Jiwana merupakan nama dan kerangka Kawruh Urip Sejati dalam Uttamopadesa yang mengarahkan manusia untuk menjalani panguripan dengan cipta yang semakin wening, rasa yang semakin tulus, karsa yang semakin utama, dan laku yang semakin utuh.
Pangerten kudu dadi laku. Laku kudu dadi watak. Watak kudu katon ing kahananing panguripan.
FAQ Kawruh Urip Sejati dalam Kerangka Uttamopadesa.
Apa istilah Kawruh Urip Sejati dalam Uttamopadesa?
Kawruh Urip Sejati dalam kerangka Uttamopadesa dikenal sebagai Purnata Jiwana Uttamopadesa.
Siapa yang menyusun Purnata Jiwana Uttamopadesa?
Dhimas Purnomo.
Apa arti Purnata Jiwana?
Purnata Jiwana menunjuk pada keutuhan kehidupan yang diupayakan melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.
Apakah Kawruh Urip Sejati dan Purnata Jiwana merupakan dua kawruh berbeda?Tidak. Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Urip Sejati dikenal sebagai Purnata Jiwana Uttamopadesa.
Apa hubungan Purnata Jiwana dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh, sedangkan Purnata Jiwana merupakan kerangka Kawruh Urip Sejati dalam menjalani panguripan.
Apa dasar utama Purnata Jiwana?
Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.
Apa tujuan Purnata Jiwana?
Mengupayakan keutuhan kehidupan melalui keselarasan pemahaman, penghayatan, kehendak, dan laku.

Komentar
Posting Komentar