NAWA TATANANING KAWRUH UTTAMOPADESA


Pendahuluan.
Kawruh sering dipahami sebagai kumpulan pengetahuan yang membuat seseorang mengetahui sesuatu. Namun, dalam Kawruh Uttamopadesa, kawruh memiliki makna yang lebih dalam. Kawruh bukan sekadar sesuatu yang memenuhi pikiran, melainkan pepadhang yang seharusnya menuntun kehidupan.

Pengetahuan yang tidak ditata dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan yang tidak diuji dapat membawa seseorang pada kekeliruan. Bahkan pengetahuan yang benar sekalipun dapat kehilangan maknanya apabila tidak diwujudkan dalam perilaku. Karena itu, seseorang yang sungguh-sungguh mengupayakan kasunyatan tidak cukup hanya banyak mengetahui, tetapi perlu belajar bagaimana menerima, mencari, memilah, merasakan, menguji, menjalankan, memuliakan, membagikan, hingga akhirnya menjadikan kawruh sebagai kebijaksanaan.

Dari pemikiran tersebut lahirlah Nawa Tatananing Kawruh, yaitu sembilan tatanan dalam mengupayakan kawruh agar tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kebijaksanaan dan laku kehidupan.

Kawruh Bukan Sekadar Pengetahuan.
Ada perbedaan antara mengetahui dan benar-benar memahami. Seseorang dapat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu mampu menggunakan pengetahuannya dengan baik. Sebaliknya, seseorang dengan pengetahuan yang sederhana dapat memiliki kebijaksanaan apabila pengetahuan tersebut telah menjadi bagian dari cara berpikir, merasa, dan bertindak.

Karena itu, ukuran kawruh tidak semata-mata terletak pada banyaknya informasi yang dimiliki. Ukurannya juga tampak dari perubahan yang terjadi dalam diri. Apakah cipta menjadi lebih jernih? Apakah rasa menjadi lebih tulus? Apakah karsa menjadi lebih luhur? Apakah perilaku menjadi lebih baik?

Jika kawruh membawa seseorang semakin dekat kepada ketenangan, keselarasan, dan kebaikan, maka kawruh tersebut telah mulai menemukan maknanya. Sebaliknya, apabila kawruh justru melahirkan kesombongan, pertentangan, kebencian, atau keinginan merendahkan orang lain, maka pengetahuan tersebut belum menjadi kebijaksanaan.

Inilah dasar penting Nawa Tatananing
Kawruh: kawruh harus mempunyai buah dalam kehidupan.

1. Tatananing Nampani Kawruh.
Laku pertama adalah menerima kawruh dengan cipta yang terbuka dan rendah hati.

Seseorang yang merasa sudah paling tahu akan sulit menerima pengetahuan baru. Kesombongan menjadi dinding yang menghalangi datangnya pemahaman. Karena itu, menerima kawruh dimulai dengan kesediaan untuk mendengar, melihat, dan mempertimbangkan sebelum menentukan pendapat.

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri. Rendah hati berarti menyadari bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin jelas pula bahwa masih banyak hal yang belum dipahaminya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kawruh dapat datang dari banyak jalan. Alam, pekerjaan, hubungan dengan sesama, kegembiraan, bahkan kesulitan dapat menjadi sumber pembelajaran apabila cipta terbuka.

2. Tatananing Ngudi Kawruh.
Setelah mampu menerima, seseorang perlu mengupayakan kawruh dengan sungguh-sungguh dan tekun.

Kawruh tidak tumbuh hanya karena sekali membaca atau mendengar. Ia membutuhkan proses yang panjang: mempelajari, mengamati, mempertimbangkan, dan kembali menelaah. Karena itu, ketekunan menjadi bagian penting dalam perjalanan mencari pemahaman.

Mengupayakan kawruh juga berarti tidak mudah puas dengan pemahaman yang hanya berada di permukaan. Seseorang perlu mencari makna yang lebih dalam dan berusaha memahami hubungan antara pengetahuan dengan kenyataan.

Namun, pencarian tersebut jangan didorong keinginan untuk dianggap pintar. Tujuan utama mencari kawruh adalah mendekati kebenaran dan memperbaiki kehidupan, bukan mengungguli sesama.

3. Tatananing Milah Kawruh.
Tidak semua pengetahuan yang beredar harus diterima. Karena itu, diperlukan kemampuan memilah dan memilih kawruh.

Memilah berarti mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum mempercayai dan menjalankan suatu ajaran. Sesuatu yang banyak dibicarakan belum tentu benar. Sesuatu yang disukai banyak orang juga belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Ukuran pentingnya adalah buah yang dihasilkan. Kawruh yang membuat cipta semakin jernih, rasa semakin tulus, karsa semakin luhur, dan perilaku semakin baik patut dipertimbangkan sebagai kawruh yang mendekati kasunyatan. Sebaliknya, pengetahuan yang melahirkan kesombongan, kebencian, pertentangan, dan kerusakan perlu ditimbang kembali.

4. Tatananing Ngrumangsani Kawruh.
Kawruh tidak cukup hanya dipahami oleh pikiran. Ia juga perlu dirasakan dengan batin yang jernih.

Ada pengetahuan yang mudah dihafalkan, tetapi belum tentu dipahami maknanya. Sebaliknya, ada pemahaman yang baru muncul setelah seseorang mengalami dan menjalankannya dalam kehidupan.

Karena itu, rasa memiliki peran penting. Rasa yang dipenuhi kebencian, iri, kesombongan, atau keinginan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang salah menangkap makna kawruh.

Ketika kawruh, cipta, dan rasa dapat berjalan bersama, lahirlah pemahaman yang lebih dalam. Dari pemahaman tersebut tumbuh kebijaksanaan yang kemudian menuntun perilaku.

5. Tatananing Nguji Kawruh.
Kawruh yang diterima perlu diuji.

Pengujian dilakukan melalui nalar, rasa, dan terutama buah nyata dari laku. Nalar membantu seseorang melihat apakah suatu pengetahuan masuk akal dan tidak bertentangan dengan tatanan kehidupan. Rasa membantu merasakan apakah kawruh tersebut membawa ketenteraman, ketulusan, dan kebaikan.

Namun, pengujian yang paling nyata adalah perilaku.

Kawruh yang benar-benar dipahami semestinya membawa perubahan. Jika seseorang mengaku memahami kebaikan tetapi perilakunya tetap penuh kebencian, kesombongan, dan kerugian bagi sesama, berarti kawruh tersebut belum benar-benar hidup dalam dirinya.

Karena itu, buah laku lebih penting daripada indahnya kata-kata.

6. Tatananing Nglampahi Kawruh.
Setelah diterima, dipahami, dan diuji, kawruh perlu dijalankan dalam kehidupan.

Inilah bagian yang membedakan pengetahuan dengan laku. Kejujuran harus diwujudkan dalam perkataan dan tindakan. Welas asih harus terlihat dalam hubungan dengan sesama. Rendah hati harus tampak dalam perilaku.

Laku tidak selalu berbentuk tindakan besar. Menjaga ucapan, menepati janji, membantu sesama, menjaga alam, dan menjalankan kewajiban dengan baik juga merupakan bentuk nyata dari kawruh.

Dengan demikian, kehidupan sehari-hari menjadi tempat untuk membuktikan apakah kawruh telah benar-benar menjadi bagian dari diri.

7. Tatananing Ngluhuraken Kawruh.
Kawruh yang dimiliki seharusnya digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.

Semakin banyak pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan manfaat. Kawruh bukan tanda bahwa seseorang lebih tinggi daripada orang lain. Kawruh justru menjadi tanggung jawab untuk menjaga kehidupan agar semakin baik.

Orang yang sungguh-sungguh memuliakan kawruh tidak sibuk memamerkan kepandaian. Ia lebih memilih menunjukkan nilai kawruh melalui perilaku yang jujur, tulus, rendah hati, dan bermanfaat.

Dengan demikian, ukuran kemuliaan kawruh bukan banyaknya kata yang dapat diucapkan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diwujudkan.

8. Tatananing Nuduhake Kawruh.
Kawruh yang baik tidak hanya disimpan untuk diri sendiri. Ia dapat dibagikan kepada sesama agar manfaatnya semakin luas.

Namun, berbagi kawruh juga membutuhkan ketulusan. Tujuannya bukan untuk menunjukkan kepandaian atau mendapatkan pujian, melainkan memberikan pepadhang kepada orang lain.

Berbagi kawruh juga bukan berarti selalu berbicara. Perilaku yang baik, budi pekerti yang luhur, dan tindakan yang bermanfaat dapat menjadi bentuk pengajaran yang bahkan lebih kuat daripada kata-kata.

Dalam proses berbagi, seseorang juga perlu bersedia mendengar. Kawruh dapat berkembang melalui percakapan, pertukaran pandangan, dan kesediaan belajar bersama.

9. Tatananing Kawicaksanan.
Puncak dari seluruh tatanan tersebut adalah kawicaksanan.

Kawicaksanan bukan sekadar memiliki banyak pengetahuan. Ia muncul ketika kawruh telah diterima, dicari, dipilah, dirasakan, diuji, dijalankan, dimuliakan, dan dibagikan sehingga akhirnya menyatu dengan kehidupan.

Orang yang bijaksana tidak mudah terbawa keinginan, tidak mudah terpengaruh oleh dorongan sesaat, dan mampu mempertimbangkan setiap perkara dengan cipta yang jernih.

Kawicaksanan tampak dalam hubungan dengan sesama, pekerjaan, dan cara seseorang menjalani kehidupan. Ia tidak mengejar kemuliaan untuk dirinya sendiri, tetapi berusaha menghadirkan manfaat bagi sesama dan seluruh kehidupan.

Penutup.
Nawa Tatananing Kawruh pada akhirnya bukan sekadar susunan sembilan tahap untuk memperoleh pengetahuan. Ia merupakan wedharan laku tentang bagaimana kawruh seharusnya dihidupkan.

Perjalanan itu dimulai dari kesediaan menerima, dilanjutkan dengan kesungguhan mencari, kecermatan memilah, kejernihan merasakan, keberanian menguji, kesediaan menjalankan, tanggung jawab memuliakan, ketulusan berbagi, hingga akhirnya mencapai kawicaksanan.

Dengan cara demikian, kawruh tidak berhenti di kepala. Ia turun menjadi sikap, menjadi kebiasaan, menjadi watak, lalu menjadi laku kehidupan.

Pada titik itulah kawruh benar-benar menjadi pepadhang: bukan hanya membuat manusia tahu, tetapi membuat manusia menjadi lebih baik. Dan ketika kawruh telah melahirkan cipta yang jernih, rasa yang tulus, karsa yang luhur, serta laku yang bermanfaat, manusia sedang menempuh jalan untuk hidup semakin selaras dengan Kasunyatan dan Tatananing Panguripan.

“Ukuran kemuliaan kawruh bukan banyaknya kata yang dapat diucapkan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diwujudkan.”
- Budi Lestari -
FAQ tentang Nawa Tatananing Kawruh.
Apa yang dimaksud Nawa Tatananing Kawruh?
Nawa Tatananing Kawruh adalah sembilan tatanan dalam mengupayakan kawruh, mulai dari menerima hingga menjadikannya kebijaksanaan dalam kehidupan.

Mengapa kawruh perlu diuji?
Karena tidak semua pengetahuan yang diterima manusia pasti sesuai dengan kenyataan. Pengujian membantu melihat kesesuaiannya melalui nalar, rasa, dan buah laku.

Apa ukuran kawruh yang baik?
Kawruh yang baik terlihat dari perubahan yang ditimbulkannya: cipta semakin jernih, rasa semakin tulus, karsa semakin luhur, dan perilaku semakin bermanfaat.

Apa tujuan akhir Nawa Tatananing Kawruh?
Tujuan akhirnya adalah kawicaksanan, yaitu ketika kawruh tidak lagi hanya menjadi pengetahuan, tetapi telah menyatu dengan kehidupan dan menuntun setiap laku menuju kebaikan.

*Baca atau download Serat Nawa Tatananing Kawruh*

Baca artikel-artikel lainnya:
PANEMBAHAN KAWRUH SEJATI.
KAWRUH SEJATI DAN ETIKA KEHIDUPAN.
KAWRUH SEJATI BUKAN KAWRUH JIWA.
PERSAUDARAAN BUAH KAWRUH SEJATI.
NAWA PAMBENING, 9 LAKU PRAKTIS.

Logo Budi Lestari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANEMBAH JATIMULYO DAN ETIKA KEHIDUPAN

PANEMBAHAN KAWRUH SEJATI

PERSAUDARAAN, BUAH KAWRUH SEJATI